Menikah itu.....

bicara soal siklus hidup banyak orang bermimpi dalam mencari jodoh itu diakhiri dalam sebuah pernikahan,, macam-macam proses yang dilalui yap ada yang mereka menikah dari jalan putus nyambung,, pacaran hingga 8 tahun,, atau bahkan dari proses ta'aruf,,,

namun kali ini entah kenapa walau saya sendiri belum menikah,, hehe  cuman melihat banyaknya foto pernikahan yang terkadang bikin baper #eh saya terpikir sebuah pernyataan yang dulu pernah dilontarkan oleh saya,, yap mereka berkata "menikah it tidak perlu nunggu sukses, rejeki bisa dicari bersama",, sebagian mengatakan "menikah itu ibadah harus segera dilaksanakan daripada menanggung dosa lama-lama",, ada juga yang mengatakan "gak perlu pacaran langsung proses lamaran saja biar segera halal",,,

saya pribadi tidak bisa menyalahkan ketiga pernyataan tersebut,, well tapi saya punya pemikiran jika menikah dipercepat dengan alasan agama dan pahala oke,, tapi apakah tidak sebaiknya kita berfikir apakah kita cocok dalam menjalani hubungan ini,, yap cerai adalah sebuah fase yang paling tidak disukai dalam pernikahan tapi itulah yang sering terjadi ketika kita tidak cocok dengan pasangan kita,, hingga timbul omongan "kalo tidak cocok untuk apa dilanjutkan?"... sejujurnya perkataan itupun tidak salah tapi saya lebih bilang "kalo tidak cocok kenapa menikah?"

well sejujurnya pernikahan it bukanlah masalah cocok atau tidak cocok,, kita semua punya kekurangan dan kelebihan bukan,, saya termasuk penganut paham berfirlah sebelum menikah dan jangan hanya karena sunah dan pahala karena cerai adalah dosa dan ikrar bukan main-main,,,
tapi disini yang saya lihat ada beberapa pasangan yang diawal pernikahan mengalami banyak masalah dimana mimpi mereka dulu sebelum menikah adalah menjalani batrah rumah tangga yang romantis dengan pasangan tapi ketika kita tinggal serumah bahkan seranjang semua memang terasa berbeda,, tidak ada yang tertutup bahkan mulai dari keluarga yang saat proses lamaan memberi senyum bisa jadi hambar,, kehidupan romantis yang dulu dijalani saat proses pacaran bisa jadi bosan,, sikap pasangan yang sempurna dimata kita yang menjadikan alasan kita untuk menikah pun bisa jadi ternoda,,

yap kembali lagi berfikir jika sudah menikah mau gimana?? reset seperti game dan cari pengganti?? dissconect server dan mengakhiri pernikahan?? haha kalo hidup seperti game mungkin bisa tapi satu hal bagi teman-teman, sepuh-sepuh yang sudah menikah saya adalah saksi bagi mereka yang menikah menyaksikan mereka dalam bingkai media sosial foto yang bahagia it mungkin bisa jadi robek tapi tidak tahu kapan,, yang hanya bisa saya katakan ketika foto itu robek janganlah menyerah, it pilihanmu dan ini bukan game,, ketika kamu menikah kamu tidak bisa hanya kembali ke orang tua dan bicara seolah-olah kamu di sakiti oleh pacarmu dulu,, ketika menikah kamu punya tanggung jawab sendiri yak sebagai orang dewasa,, sebagai orang yang sudah punya keluarga baru,, ketika memang robek lemlah kembali agar tidak robek, jika terjadi lagi lakukan hingga robekan it menjadi puing-puing yang susah direkatkan maka kamu hanya perlu memutar film lama dan mengcopynya dalam ingatanmu dimana kalian pernah merasa menjadi orang yang paling berbahagia didunia ini dengan menggandeng pasangan kalian masing-masing dan berhenti menyesali setiap momen yang kalian lalui :)

last word dari saya
"Choose what make you happy, and stop regret every single choice you choose cause it's your life and teh only only once you have" 

Sebuah penyesalan atas karunia Tuhan

selama ini kita sebagai manusia selalu kurang bersukur,, diberi hidup layak masih ingin menjadi kaya,, diberi keluarga yang baik masih ingin memiliki keluarga yang lebih hebat,, yak selalu ada penyesalan tanpa adanya rasa bersukur,,,

mungkin kalau karma dan murka Tuhan itu ada, saya adalah salah satu yang layak menerimanya,, bagaimana tidak,, menyesal,, menyesal,, dan menyesal,,
saya tahu Tuhan telah banyak mengkaruniai saya dengan segala yang saya miliki sekarang,, yak keluarga,, hidup yang cukup,, otak yang masih bisa dipakai,, bahkan fisik yang lengkap dan kesehatan hingga sampai saat ini,,

tapi,, belakangan saya berfikir kembali mungkinkah saya bisa jadi lebih baik jika saya tidak ada dilingkungan keluarga in???
pertanyaan besar dibenah saya,, saya memang sedikit curhat kali ini entah mungkin sudah enek dengan lingkungan keluarga ini,, insyaAllah saya masih tau mana yang benar dan yang salah meski ego saya terkadang mengalahkan segalanya,, justru pemikiran benar dan salah itulah yang membuat saya geleg-geleng dengan keluarga "saya". maaf saya jadi buka aib di media sosial tapi memang ini yang terjadi mau gimana lagi mau cerita gak ada yang bisa diajak cerita,, hehehe,,,

well yang pertama ribut masalah "saya" yang belum dapat pekerjaan, yah selalu,, saya senang kalo memang itu kesadaran mereka mengingatkan saya akan masa depan saya TAPI bagaimana kalo saya cuman jadi ajang pamer,,, MANNNN anak bukan ajang pamer dan kalo dipaksa saya sudah bukan laki2 penurut itu lagi,, saya cuman bisa berpikir mungkin satu2 nya anak yang bisa di"pamerkan" adalah saya jadi tuntutan demi tuntutan masuk ke saya hinga saya mulai malas mendengarkan keluarga ini,, "maaf" sekali lagi.....

yang kedua masalah intern keluarga satu dengan yang lain,, setiap bangun pagi teriakan demi teriakan terdengar hingga saya harus mengeraskan sound dan mengunci pintu agar tidak terdengar apa yang mereka bicarakan,, keluarga ini udah kayak perang sodara,,, hanya bedanya gak pake pistol dan pedang,, saya pernah baca sebuah artikel tentang "bentakan dapat merusak sel otak anak",, saya jd berfikir mungkin saya udah trauma karena ini salah satunya,, ibu saya hanya bisa BERTERIAK ketika apa yang disuruh tidak dapat ditepati,,, ayah saya hanya bisa bilang MUNGKIN LAIN KALI dan SABAR (masih untung kalo kata2 yang sabar bisa keluar karena kadan gak pernah) bahkan dulu waktu masih sangat kecil yang aku ingat sekali adalah saat momen ayah saya menampar pipi saya hanya karena keran air tidak dimatikan,, WOW trauma? mungkin,, kemudian sekarang saya lihat keluarga ini udah gak punya masa depan ya liat saja udah kayak terpecah jadi dua kubu dan lagi2 saya jd bahan perang "mereka",,

saya udah coba istighfar,, tapi capek Tuhan,, teriakan bentakan itu udah rasanya menghipnotis saya buat ambil pisau didapur dan menggorokan leher saya didepan mereka,, saking setresnya saya mencoba cari di internet tentang psikolog online yang gratis,,, yah saya udah capek walau saya tahu mereka jg sudah capek ngurus saya,, saya juga udah enek walau saya tahu mereka juga enek lihat saaya,, saya pingin mereka menyemangati bukan malah mendorong saat saya jatuh,, memberi kesempatan kedua bukan membentak saat kita salah,, memberi contoh tindakan yang baik bukan hanya menceramahi dengan kata-kata,,, apa saya salah Tuhan kalo saya berharap saya dilahirkan bukan dari rahim ibu saya?? "Astargfirullah"

last word dari saya bersukur itu tidak ada batasnya,tapi menyesal akan selalu menghantuimu,, so
"be thanksfull and forgot about the past"
walau saya tidak akan pernah bisa melakukannya saya tahu itu :)